no man's land review film terbaik, sinopsis no man's land, tragedi komedi berita film

Sinopsis No Man’s Land (2001), Tragedi Komedi dan Keterjebakan Manusia

reviewfilm.net – review film terbaik – Resensi Film – Sinopsis No Man’s Land (2001)

Sinopsis No Man’s Land – sebuah tragedi komedi – review oleh Andreas Anex

“Untuk berperang dan untuk berteman adalah keterjebakan manusia yang ia ciptakan sendiri karena terlanjur memiliki peran dan kepentingan.”

Dalam perang, takdir ditentukan oleh siapa yang memegang senjata dan siapa yang terkena ranjau terlebih dahulu. Namun pemenangnya tentu adalah yang pertama dapat tertawa.

Tapi setidak-terduganya suatu kejadian dalam perang, pasti tidak akan menyebabkan mereka yang dalam perang itu tertawa. Ketegangan akan keregangan nyawa mereka lebih tinggi porsinya dibandingkan dengan kendornya logika linier yang tiba-tiba berbelok menjadi komedi.

Bagi mereka, apa pun yang terjadi selama perang adalah tragedi.

Tertembaknya pantat dari belakang saat sedang berlari, bukan bagian kepalanya, adalah tragedi. Tersandung saat sedang maju menyerang, terjatuh dan lalu tertembak padahal ia dalam posisi yang menguntungkan juga adalah tragedi.

Namun apa namanya bila ada prajurit yang saat terbangun dari pingsannya tiba-tiba sedang meniduri ranjau darat yang akan meledak jika ia bangkit. Prajurit itu hanya bisa melek tanpa bisa beranjak kemana-mana. Tragedi?Komedi?

Atau kita sepakati saja sebagai tragedi komedi?

Sinopsis No Man’s Land , sebuah Tragedi Komedi

Sinopsis No Man’s Land: Pertemuan yang tak terduga antara dua serdadu asal Bosnia dengan satu serdadu asal Serbia, di mana keduanya terjebak dalam sebuah lumbung parit perlindungan di wilayah perbatasan perang Bosnia dan Serbia.

Mereka yang saling berseteru, harus bersama-sama dalam sebuah kesempatan jika tidak bisa dibilang keterpaksaan. Tak banyak yang bisa dilakukan, pun dengan para komandan masing-masing.

Konflik individu antar serdadu yang saling diliputi kebencian itu sesungguhnya sederhana namun meluas dan semakin rumit di tingkat pejabat, pasukan perdamaian PBB sekaligus pers.

Di akhir cerita, dua serdadu tewas karena hal sepele. Secara tak langsung para serdadu ini menjadi korban kepentingan berbagai pihak.

Pemikiran dalam cerita film.

Penonton tak menaruhkan nyawanya dalam perang di film itu. Penonton hanya perlu mempertahakan perhatiannya pada tontonannya agar tidak berlalu begitu saja dan tiba-tiba pemeran utamanya mati.

Bagi mereka yang perang, perang itu sendiri adalah penceritaan pertama. Bila ia telah selesai perang dan ia menceritakan kisahnya sewaktu perang, kisah itu menjadi penceritaan kedua.

Artinya semua yang mendengarkan cerita sadar bahwa hal yang diceritakan sudah berlalu dan mereka tak perlu berpikir untuk mengantisipasi kejadian-kejadian dalam kisah tersebut.

Tentu film ini adalah penceritaan kedua, tentang keterjebakan manusia dalam perang antara Bosnia dan Serbia di tahun 1993.

Yang paling terjebak dalam film ini tentu saja Cera (diperankan oleh Filip Sovagovic ), tentara Bosnia yang saat sadar dari pingsannya sedang meniduri ranjau darat –yang terkubur di bawah punggungnya- tanpa tau apa penyebabnya.

Terlebih lagi ia bahkan tidak tahu ranjau seperti apa yang sedang ia tiduri. Orang kedua yang terjebak adalah teman sesama negaranya Ciki (diperankan oleh Branko Djuric ) yang terpaksa tidak bisa meninggalkan temannya Cera dalam keadaan seperti itu.

Orang ketiga yang terjebak adalah  Nino (diperankan oleh Rene Bitorajac) , tentara musuh dari Serbia yang terpaksa tidak bisa meninggalkan lumbung tempat mereka bertiga berada karena tidak memiliki senjata dan diancam akan dibunuh bila ia pergi.

Dan jebakan paling tidak terduga adalah bahwa lumbung itu berada tepat di antara markas Bosnia dan Serbia, yang artinya kedua belah pihak tidak dapat sama-sama menghampiri tempat itu dengan damai.

Lumbung itu bukan wilayah siapapun, no man’s land

no man's land review film.

No Man’s Land (2001), sebuah rantai keterjebakan.

Runtutan keterjebakan ini menyebabkan keterjebakan-keterjebakan lain.

Pihak  United Nations Protection Force (UNPROFOR) yang netral (sebagai pihak ketiga) terpaksa harus menyelamatkan mereka, karena kalau tidak mereka menyalahi tugas perdamaian.

Pers terpaksa harus meliput mereka karena kalau tidak mereka tidak mendapatkan berita yang aktual.

Dan kita yang terpaksa harus menyaksikan kisah ini sampai habis kalau tidak kita akan penasaran bagaimana setiap pihak keluar dari keterjebakkan mereka (termasuk kita).

Dalam keterjebakan, musuh bisa menjadi kooperatif. Mungkin ini ihwal manusia, yaitu menjadi mahkluk sosial karena sama-sama terjebak di dunia.

Dalam film no man’s land, Nino dan Ciki dari negara yang berbeda pun terpaksa harus menjadi kooperatif untuk mendapatkan bantuan dari pihak ketiga.

Walaupun nanti saat salah satu dari mereka memegang senjata dan saling melukai, mereka akan menjadi musuh kembali.

Ya, siapa yang memegang senjata lebih dulu akan mengubah teman menjadi musuh.

Review Film No Man’s Land (2001)

Sutradara Danis Tanovic menceritakan keterjebakan semua itu dengan suasana yang dingin namun dengan dampak yang sangat menggelikan alias lucu.

Lucunya adalah, tak ada satu pun yang tertawa dalam film itu.

Tak ada soundtrack apa pun sepanjang film karena memang suasana mencekam.

Hanya ada satu lagu, itu pun tidak sengaja terdengar dari seorang prajurit UNPROFOR yang sedang bosan dan mendengarkan lagu di earphone-nya.

Tak ada adegan-adegan konyol yang sengaja diciptakan seperti dalam film-film Mr. Bean – yang tiba-tiba kepalanya masuk ke dalam kalkun dan harus membuka pintu  bagi tamu yang datang.

Semua yang terjadi begitu alami, namun lucunya adalah karena semua peran dalam peristiwa itu sedang terjebak.

Beruntunglah karena penonton sebagai orang di luar cerita dapat menertawakan semua keterjebakkan tersebut.

Begitulah setiap keterjebakkan akan ditutupi oleh keterjebakan lain sampai ada yang berani mengubah pola atau membunuh salah satu pihak.

Namun bagaimana setiap peran dalam film ini mampu keluar dalam keterjebakannya –karena perang.

Dan bagaimana Cera keluar dari keterjebakan antara dirinya sendiri dengan ranjau yang sedang ia tiduri?

Dalam konteks yang lebih luas lagi, bagaimana kita (nantinya) keluar dari keterjebakkan kita dalam dunia ini bila hidup itu adalah perang. Dengan menganggap keterjebakkan tersebut adalah tragedi atau komedi? Atau tragedi komedi?

Tapi sebaiknya kita tertawakan saja dulu hidup agar jadi pemenang yang pertama.

Sal
Sal on FacebookSal on GoogleSal on Twitter

Post Author: Sal

Berikan Komentar Anda